Beberapa waktu yang lalu, aku dan temanku menyaksikan sebuah film dokumenter karya Harun Yahya yang berjudul “Runtuhnya Teori Evolusi”. Sebuah film yang menarik. Walaupun dulu aku pernah membaca sebuah artikel dengan judul yang sama, ternyata teknologi audio visual bisa memberi otak kita sensasi yang berbeda untuk menu yang sama.
Lalu seperti biasa, setelah selesai menonton, aku dan teman-teman mulai membicarakan film yang baru selesai kami saksikan tadi. Sebenarnya kami bukannya sengaja membuka sebuah forum diskusi ilmiah, hanya saja rasanya tidak enak menikmati sekaleng minuman ringan dan pisang goreng keju kalau hanya sambil membisu dan bertatap-tatapan.
Perbincangan pun berjalan, kami saling berbagi pendapat mengenai evolusi, informasi yang pernah kami dengar atau baca, dan pertanyaan-pertanyaan mulai dari yang paling serius seperti, “Apakah teori Evolusi benar-benar telah menyebabkan holocaust yang membunuh jutaan bangsa Yahudi di Eropa?” sampai yang paling konyol seperti, “Siapa diantara kita yang dari ciri fisiknya masih dekat dengan leluhur kera kita?” Sebuah suasana yang menyenangkan, santai tapi juga serius. Seperti kata pepatah, “Sambil menyelam minum soft drink” atau “Sekali mengayun dayung, dua tiga pisang goreng diembat…”
Lalu tiba-tiba di dalam otakku muncul sebuah pemikiran yang kemudian aku tanyakan kepada forum bedah pisang goreng itu, “Bagaimana kalau ternyata besok terbukti bahwa Teori Penciptaan Harun Yahya ternyata juga salah?”
Salah satu temanku yang agak santri langsung membantah, bahwa sudah terbukti kalau teori Evolusi itu salah dan bertentangan dengan kitab suci yang kita yakini kebenarnya. Maka tidak ada kemungkinan teori Evolusi itu akan berbalik menjadi benar. Tapi beberapa teman lainnya sepertinya berpikiran terbuka dan menyatakan hal itu bisa saja terjadi.
Aku sendiri mempunyai pendirian yang agak berbeda dengan mereka semua, aku tidak serta-merta ikut dengan kesimpulannya Harun Yahya. Ada sebuah tanda tanya yang masih mengganjal di benakku.
Katakanlah bahwa sekarang Teori Evolusi telah gagal mempertahankan kebenarannya. Apakah lantas Teori Penciptaan Harun Yahya akan bisa diterima begitu saja? Sedangkan (menurut pemikiranku yang bodoh) Teori Penciptaan pun belum memiliki dasar yang terlalu kuat untuk berdiri sendiri, kecuali pada ayat-ayat suci yang secara dogmatis tidak boleh dibantah (karena kita menyatakan diri kita sebagai orang-orang beriman). Belum ada cukup bukti secara ilmiah yang menyatakan Teori Penciptaan itu benar sedemikian apa adanya. Bukankah sebuah teori tidak menjadi benar hanya karena teori yang berlawanan dengannya dinyatakan salah?
Menurutku harus ada yang menghubungkan kedua teori itu dengan biajaksana. Karena kedua teori itu sama-sama punya kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan teori Evolusi adalah walaupun salah secara aplikasi karena menihilkan peranan Tuhan dalam kehidupan dunia, teori ini mengajarkan kita bahwa ”seleksi alam” akan mengharuskan kita memilih antara beradaptasi atau mati. Bukankah itu sebuah kebijaksanaan yang diajarkan alam kepada kita. Secara sosial dan ekonomi, saat ini pun sebenarnya kita sedang menghadapi seleksi alam. Yang kuat secara ekonomi akan bertahan, sedangkan yang lemah akan tersingkir dan mati. Maka adaptasi tertentu harus kita lakukan untuk bertahan. Walaupun tingkat adaptasi itu harus juga dibatasi agar kita bisa bertahan hidup dan tetap menjadi manusia, bukannya menjadi ”spesies” baru yang tidak lagi memiliki ”kemanusiaan”.
Sedangkan Teori Penciptaan walaupun benar secara logis-religius, juga tidak dapat menihilkan semua kemungkinan lain yang bertentangan dengannya. Ada banyak fakta-fakta yang harus diberi bantahan secara ilmiah dan bukan hanya dengan ayat-ayat suci.
Bukannya aku menyangsikan kebenaran kitab suci. Tapi sebagai manusia, kita hanya bisa memahami firman Tuhan yang tertuang di Al Quran/Injl/Taurat secara tersurat saja, sedangkan yang mengetahui makna hakikinya, bukankah hanya Tuhan yang Maha Mengetahui?
Bukankah dulu kita umat Islam meyakini bahwa nabi Isa as tidak mati disalib tapi diangkat ke surga berdasarkan keterangan kitab suci Al Quran surah An-Nisaa ayat 157. Namun setelah Ahmad Deedat melakukan penelitian ternyata benar Nabi Isa itu disalib (walaupun tidak sampai mati) dan tidak diangkat ke surga melainkan tetap hidup di dunia ini sampai bertahun-tahun kemudian dia (Nabi Isa as) wafat dan dikubur secara wajar (buku Ahmad Deedat: The Choice).
Lantas apakah ini berarti kitab suci Al Quran salah? Tidak, sekali-kali tidak. Hanya saja kita yang dulu memahaminya secara salah karena tidak memiliki bukti-bukti ilmiah, dan hanya menduga-duga berdasarkan keterangan ayat-ayat suci itu saja.
Lantas hubungannya dengan Teori Evolusi? Begitu juga sama. Kita sekarang yakin bahwa kita diciptakan sebagai keturunan dari Nabi Adam, yang diciptakan oleh Allah dengan ”tangan”-Nya sendiri, dan bahwa Nabi Adam itu adalah makhluk pertama dari spesies yang bernama ”manusia”. Semua fakta itu hanya didapat dari keterangan kitab suci. Apakah tidak mungkin kita memahami ayat-ayat tentang kisah asal-mula Adam itu dengan pemahaman yang salah? Apakah tidak mungkin suatu saat nanti ada seorang yang menemukan fakta yang berbeda namun masih sesuai dengan ayat-ayat Al Quran seperti pada kasus penyaliban Nabi Isa as?
Kebenaran adalah sesuatu yang relatif, hanya kebenaran Tuhan saja yang Mutlak (al-Haqq).
Bukankah dulu seorang pemikir yang pintar menyatakan bahwa bumi ini datar, sampai kemudian seorang yang lebih pintar membantahnya dan membuktikan bahwa bumi itu bundar.
Bukankah dulu manusia yang paling cerdas di muka bumi ini menyatakan bahwa bumi ini adalah pusat tata surya, lalu beberapa waktu kemudian seorang yang lain mengatakan bahwa dia salah dan membuktikan bahwa mataharilah pusat tata surya kita.
Bukankah pula dulu seorang genius meyatakan bahwa materi terkecil di dunia ini adalah atom, sampai kemudian ada seorang lain yang sanggup membelah atom itu menjadi materi yang lebih kecil berupa proton, netron dan elektron?
Lalu bagaimana kita bisa manarik kesimpulan bahwa karena Teori Evolusi salah lantas Teori Penciptaan bisa diterima begitu saja? Selalu ada kemungkinan kebenaran yang ”lebih benar” akan terungkap dan menjadikan kita manusia yang lebih bijaksana.
Agama adalah makanan hati, sedangkan ilmu pengetahuan adalah makanan otak. Kekurangan salah satunya akan menghambat pertumbuhan kita menuju manusia yang sempurna. Kalau kita hanya percaya pada Darwin, hati kita akan menjadi keras, sebaliknya kalau kita menerima Harun Yahya apa adanya, otak kita akan beku. Hati dan otak kita harus selalu terbuka menerima makanan segar untuk diolah dengan baik agar JIWA kita tumbuh dewasa. Karena jiwa (ruh) itulah esensi kita yang akan hidup abadi selama-lamanya. Kalau kita tidak mengkonsumsi ”gizi” yang seimbang untuk hati dan otak kita, maka jiwa kita akan kerdil. Dan jiwa (ruh) yang kerdil tidak akan bisa mencapai kedudukan yang mulia disisi JIWA yang Maha Sempurna (Allah – ArRuh).
Entries (RSS)
Saya sependapat dgn anda. Walaupun memang teori evolusi punya banyak keterbatasan dan pernah diinterpretasikan keliru di masa lalu lewat Darwinisme Sosial, menurut saya, bagaimanapun teori evolusi adalah pemikiran manusia yg utk saat ini masih tetap yang paling baik dalam menjelaskan alam semesta secara biologis.
Tentu saja kalau di masa mendatang, ada teori baru yg lebih baik, maka sudah sewajarnya teori evolusi akan ditinggalkan. Secara logika juga, bila evolusi adalah kebohongan, masa lembaga-lembaga ilmiah independen seperti BBC, National Geographic, dan Discovery Channel, tetap mendukungnya? Betul, teori evolusi tdk dapat dibuktikan di laboratorium secara empiris, tapi begitu pula teori penciptaan berdasarkan dogma-dogma agama.
Saya sendiri sempat menulis di blog saya: http://ravenheart-inspirations.blogspot.com/2008/04/evolution-vs-creation.html setelah terinspirasi usai menonton video BBC “Horizon: Missing Link”, yang mencoba menguak misteri evolusi bagaimana ikan mempunyai kaki dan kelak menguasai daratan.