Membagikan zakat memang wajib dan diganjar pahala. Namun, jika dilakukan serampangan, malah menuai bencana bahkan mendatangkan dosa. Pembagian zakat oleh pengusaha dermawan asal Pasuruan, Haji Syaikhon, Senin 15 September lalu, bisa menjadi pelajaran.

Maksud hati ingin membantu fakir miskin dengan zakat Rp30.000, tapi malah berujung tragedi tewasnya 21 orang, satu kritis, dan 12 orang terluka. Atas keteledoran itu, kini H. Syaikhon, istri, dan tiga anaknya beserta belasan panitia dibawa ke Mapolres Kota Pasuruan. Mereka diamankan dari amarah warga.

Kejadian yang memilukan umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa itu berawal dari keputusan H. Syaikhon untuk kembali menerapkan pola pembagian zakat masal. Pengusaha kulit dan peternak sarang burung walet tersebut mengundang warga ke rumahnya di mulut Gang Pepaya Jalan Wahidin Selatan, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, untuk menerima uang tunai Rp 30 ribu per orang.

Maka berbondong-bondonglah warga ke rumah H. Syaikhon, bukan hanya tetangga sekitar, tapi juga dari daerah pedesaan wilayah Kabupaten Pasuruan yang berjarak sekitar 20 kilometer. Bahkan, ada beberapa yang datang dari luar kota seperti Jember dan Kediri. Ingin mendapat lokasi terdepan, mereka menunggu pembagian zakat di depan rumah Syaikhon sejak usai sahur. Sampai pukul 08.00 kira-kira sudah lebih dari 5000 orang yang semuanya ibu-ibu sudah berjubel di depan rumah H. Syaikhon.

Keluarga Syaikhon sebenarnya sudah mengantisipasi membludaknya massa. Gapura depan Gang Pepaya sejak pagi itu sudah ditutupi dengan (hanya) anyaman bambu. Saat hari makin siang, lama jumlah massa yang datang semakin bertambah.

Memasuki pukul 09.00, hampir sekitar lima puluh orang telah menerima zakat. Usaha mereka berlomba terbilang cukup semangat untuk masuk dan mengambil jatah zakat. Sebab, mereka harus berdesak-desakan dengan sesama penerima. Ada pula massa yang kebingungan dengan anak yang digendongnya.

Lama-kelamaan pun aksi dorong massa semakin brutal. Mereka ingin cepat-cepat mendapatkan santunan zakat. Hingga akhirnya barisan depan yang berada di pintu musala semakin terhimpit. Ada yang menjerit kesakitan dan banyak juga yang menangis histeris. Sekitar pukul 09.30 WIB aksi dorong-dorongan massa semakin hebat. Banyak kumpulan orang yang jatuh tergeletak ke tanah hingga akhirnya terinjak massa yang lain.

Jeritan-jeritan histeris mulai menyeruak, bercampur aduk dengan suara orang mengaduh-aduh. Mereka yang sadar dalam kondisi bahaya, berusaha menyelamatkan diri. Tapi, itu tidak mudah bagi yang sudah berada di tengah kerumunan. Tarik menarik demi penyelamatan diri terjadi. Ada wanita yang sampai bajunya robek di tengah tarik menarik itu.

Suasana semakin tak terkendali. Beberapa orang yang terjepit, terinjak, kehabisan napas, berjatuhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terlihat digotong ke dalam musala dalam keadaan meninggal dunia….

Begitulah gambaran bangsa kita, kemiskinan sepertinya menjadi teman sejati bagi segaian besar rakyat. Di sisi lain para pemimpin, umara, ulama, orang-orang berpunya hanya bisa berjanji memberi kesejahteraan dan kemakmuran sambil menggunakan rakyat miskin sebagai bahan kampanye.

Mengapa pembagian zakat dan sedekah harus selalu dilakukan secara demonstratif seperti ini? Apakah agar orang lain memuji kedermawanan kita? Bukankah Rasullulah saw mengajarkan kalau kita bersedekah dengan tangan kanan, tangan kiri kita sendiri pun tidak boleh sampai tahu, apa lagi orang lain. Mungkin para aghniya negeri ini perlu belajar lagi tentang keiklashan,

21 nyawa manusia melayang. Nyawa orang-orang miskin yang seharusnya dipelihara oleh kita yang berpunya. Nyawa orang-orang yang dekat dengan Rasullulah. Apakah perbuatan seperti ini akan dicatat sebagai pahala atau dosa di sisi Allah?

Mungkin H. Syaikhon tidak berniat untuk riya dalam amalan solehnya. Tapi perbuatan yang baik pun harus diperhitungkan manfaat dan mudharatnya. Apalagi yang dijadikan obyek adalah rakyat yang miskin yang sedang kelaparan karena berpuasa dan karena memang sudah berbulan-bulan berpuasa. Memang puasa mengajar kita untuk bersabar. Tapi perut yang lapar bisa membuat manusia lupa segalanya. Jangan samakan tingkat keimanan para warga miskin ini sama tingginya dengan H. Syaikhon. Orang miskin bisanya tidak berilmu dan lemah imannya, walaupun tidak semuanya begitu.

Mengapa tidak menggunakan lembaga-lembaga amul zakat yang sudah banyak sekali menjamur di tanah air? Bukankan melalui mereka, zakat, infak dan sedekah kita dapat tersalur dengan baik. Mungkin H. Syaikhon tidak percaya pada lembaga-lembaga itu, khawatir mereka tidak menyalurkannya dengan baik dan benar. Sesungguhnya tidak perlu demikian, karena Allah dan Rasulnya pun mengajarkan kita berzakat melalui amil. Kalau ternyata amil menyalahgunakan zakat kita, hal itu tidak akan mengurangi pahala kita. Karena setiap amal kita tergantung denga niatnya. Dan Allah lebih tahu niat di dalam hati kita.

Semoga peritiwa ini menjadi pelajaran bagi kita untuk menyalurkan zakat dan infak kita dengan cara yang lebih manusiawi dan beradab. Jangan sampai niat kita menolong orang miskin malah menyusahkan mereka. Ingin memberi mereka makan untuk menyambung hidup, kita malah mencabut nyawa mereka. Na’udzubillah…

2 Responses to “Zakat yang Berlumuran Darah”
  1. Kasihan sekali nyawa orang-orang itu melayang hanya untuk mengejar Rp.30000. Sebegitu murahnya kah harga diri dan nyawa rakyat Indonesia?

  2. Betapa murah nyawa manusia di republik ini, cuma 30 rebu perak! Yg memprihatinkan lagi adalah betapa mental pengemis telah lama mengendap di jati diri bangsa kita. Saya masih ingat berita itu, ada yg bela-belain dari Probolinggo ke Pasuruan dgn bus selama 2 jam (jadi PP total 4 jam) dan ongkos transport PP sebesar 20 ribu. Jadi dia buang waktu selama sedikitnya 5 jam dgn tenaga terkuras akibat berdesak-desakkan hanya demi 10 ribu rupiah! Belum lagi risiko dia mati konyol akibat terinjak-injak manusia yg sudah kalap dikuasai jiwa pengemis kronisnya.

    Kalau berangkat kerja, saya melewati Palmerah. Disana setiap hari selalu ada sekitar 3 anak yg “dipekerjakan” menjadi peminta sumbangan di pinggir jalan. Apa ortunya ga tahu atau membiarkan ya? Bukannya mereka lebih baik sekolah atau kalau memang tdk mampu, ya mending cari kerjaan apa gitu kek, daripada cm duduk termangu sembari memegangi kotak sumbangan di pinggir jalan (itu scr tdk langsung ikut menyuburkan mental ngemis). Belum lagi kalau ke luar kota, sering banget ada 5 org membawa tongkat bambu sedikit memaksa kendaraan2 yg lewat utk memberi uang, bahkan sampai menutup setengah jalan hanya tuk memuaskan mental mengemis mereka.

    Mungkin ada yg salah dgn konsep ekonomi di republik ini ataukah mereka terinspirasi dari pejabat kita yg sering mengemis minta bantuan luar negeri?

Leave a Reply