
Peristiwa Monas 1 Juni 2008 yang lalu agaknya berbuntut cukup panjang. Penyerangan Front Pembela Islam (FPI) kepada AKKBB yang mengakibatkan korban luka-luka, telah menguras energi kita, khususnya umat Islam untuk menentukan sikap terhadap peristiwa itu. Sejauh ini sikap umat Islam sudah jelas terlihat. Ada yang mendukung FPI, tapi banyak juga yang sebaliknya, mengutuk dan menuntut pembubaran Front pimpinan Habib Rizieq Shihab itu.
Bagaimana seharusnya kita memandang persoalan ini?
Mencari Masalah Sesungguhnya
Susah untuk bersikap atas sesuatu, apabila kita sendri tidak tahu apa sebenarnya masalah yang terjadi. Mayoritas umat Islam sepakat bahwa aliran Ahmadiyah yang didukung oleh AKKBB adalah aliran yang sesat dan menyimpang dari ‘main stream’ ajaran Islam, khususnya Islam di Indonesia.
Tapi dari sebagian besar umat Islam yang mengklaim Ahmadiyah sesat itu, tidak tahu pasti bagaimana dan dimana kesesatan Ahmadiyah itu. Semua tuduhan kepada Ahmadiyah didasarkan dari informasi yang sangat terbatas. Umumnya kita menerima bahwa Ahmadiyah sesat karena Ahmadiyah mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu adalah nabi yang kembali diutus Allah setelah Muhammad SAW. Dan karena Ahmadiyah meyakini bahwa kitab Tadzkirah adalah kitab suci selain kitab suci Al-Quran.
Masalahnya, kita tidak pernah tahu secara menyeluruh tentang Ahmadiyah yang sesungguhnya. Informasi yang kita jadikan dasar berbagai asumsi kita hanya berdasarkan berita-berita di koran dan televisi yang hanya ditampilkan secara parsial, karena terbatasnya halaman atau air-time. Bahkan beberapa media cetak dan elektronik cenderung menampilkan Ahmadiyah secara tendensius, sesuai kepentingan mereka masing-masing.
Pernahkah kita sholat bersama umat Ahmadiyah di masjid-masjid mereka? Pernahkah kita mengaji bersama di tempat mereka mengaji? Pernahkah kita hidup dan menjalani hari-hari bersama mereka sehingga kita kenal mereka dari dekat? Kalau kita tidak pernah mencoba memahami ajaran Ahmadiyah seperti mereka memahaminya, bagaimana kita bisa menganggap mereka sesat?
Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Islam sendiri sudah diprediksi Nabi Muhammad SAW akan berkembang menjadi berpuluh-puluh aliran, lantas bagaiman kita menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Bukankah yang Maha Benar hanya ALLAH saja. Bila kita menganggap kitalah yang paling benar, maka kita telah mengambil hak Allah. Dan yang terburuk dari sikap itu adalah, kita jadi berhenti mencari kebenaran yang hakiki.
Daya Tahan Umat Islam Lemah
Umat Islam, khususnya di Indonesia selalau terancam dengan berbagai aliran dan paham yang tiba-tiba tumbuh. Sebut saja Ahmad Mussadek atau Lia Eden. Setiap muncul suatu aliran baru, umat Islam selalu merasa terancam dan terganggu. Ini menunjukkan bahwa daya tahan umat Islam, khususnya di Indonesia masih lemah. Bila daya tahan umat Islam kuat, maka munculnya berbagai aliran itu tidak akan menjadi suatu kekhawatiran yang berlebihan.
Para ulama yang seharusnya memperkuat daya tahan umat Islam dengan memberikan pengajaran dan pemahaman Islam ternyata gagal membentuk kepribadian umat Islam yang kuat, sebagian besar umat Islam di Indonesia lemah pemahaman agamanya, sehingga selalu mudah disesatkan oleh berbagai aliran-aliran tersebut.
Apabila daya tahan umat Islam kuat, maka kita tidak akan pernah khawatir mereka disesatkan meskipun ratusan aliran sesat muncul dan berkembang di Indonesia.
Tindakan yang salah
Bukankah Allah mengatakan,”Barangsiapa yang Allah beri dia petunjuk, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorangpun dapat memberinya petunjuk (ke jalan yang benar).”
Segala usaha yang dilakukan untuk membimbing umat seperti Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar, akan sia-sia. Mengapa? Karena mereka meyakini apa yang mereka yakini itu benar. Mereka sesat, karena kita yang menilai mereka sesat, tentunya dengan argumentasi kita. Tapi mereka justru menganggap diri mereka adalah yang mendapat petunjuk.
Lalu apakah karena mereka tidak bisa diselamatkan dari kesesatan mereka, lantas kita mendapat hak untuk menyakiti, mengucilkan atau memusnahkan mereka?
Bagaimana bila dunia terbalik
Coba bayangkan seandainya Indonesia ini adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Ahmadiyah, sedang kita umat Nabi Muhammad hanyalah minoritas. Apakah kita akan menerima jika umat Ahmadiyah yang mayoritas itu memaksa kita untuk menerima Mirza Ghulam Ahmad sebagai pewaris Nabi Muhammad. Bagaimana kita akan bersikap jika mereka mengintimidasi, menyakiti dan berusaha membunuh kita karenanya. Tentunya kita tidak akan menerima, dan akan berjuang kalau perlu sampai mati untuk mempertahankan iman kita bukan?
Jadi
Biarlah… Ahmadiyah akan tetap Ahmadiyah. Mereka akan tetap ada sampai kapan pun. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat keimanan umat Islam yang mayoritas ini agat kita tidak ikut-ikutan tersesat. Bukannya melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang justru bertentangan dengan ajaran Islam. Jangan sampai kita yang ingin menyelamatkan umat dari kesesatan, malah membuat umat kita bertanya, ”Siapa sebenarnya yang sesat?”. Bukankah Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyakiti orang lain yang tidak sependapat dengnya. Bahkan ketika Nabi Muhammad SAW dilempari batu oleh orang-orang Thaif yang sesat, dia bisa membalasnya dengan bantuan malikat Jibril. Tapi toh Beliau tidak mau, malah mendoakan mereka supaya mendapat petunjuk.
Semoga kita semua diberi petunjuk ke arah kebenaran dan kebijaksanaan untuk menjalankan petunjuk itu dengan cara yang benar.
Entries (RSS)
Adek Tommy ini tulisan adek atau cuplikan dari orang lain?
Kakak Pengen komen isi tulisan ini (karena kakak kenal sama tomy, dan merasa wajib meluruskannya)…bukan merasa betul loh!:)
Untuk Masalah Aqidah Islam jelas dek…tidak ada excuse (alias toleransi)apalagi untuk yang menghina islam…itu jelas sekali dijelaskan dalam beberapa hadist dan AL quran. Nabi sediri pernah meluluh lantakkan mesjid pusat maksiat dan nabi palsu. Sedikit Perasaan kasian(toleransi) yg kita berikan ke penghina islam dan nabi kita…akan melemahkan iman isalam kita… hati2x dek (jauhkan perasaan itu)…segitu aja dulu dek dak bisa panjang2x (kak Adhit ada file mp3 tablig akbar yg salah satu pengisinya mantan Ustad Ahmadiyah)…dan file peran LSM yahudi dibalik pembentukan AKKBB..mau?…kalo mau bisa hubungi kak adhit
Assalamun alaik, Kak Adit.
Alhamdulillah, sepertinya kak Adit masih seperti yang kukenal dulu, soleh dan militan. (”,)
Ini cuma pandangan saya Kak. Sedikit berbeda tidak apa kan? Keragaman pendapat bisa memperkaya dan memperkuat ilmu kita, bukankah begitu?
Ahmadiyah sesat? saya sependapat. Tapi, menghancurkan Masjid atau memusnahkan Nabi palsu? Mungkin tidak sesederhana itu.
Ada yang sering dilupakan bahwa kondisi saat ini tidak begitu serupa dengan masa Nabi dahulu. Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan untung ruginya bagi umat Islam.
Satu yang Saya yakini, tidak ada yang bisa menghina Islam dan umatnya kalau Kita yakin bahwa kita ini Umat yang mulia. Kita marah ketika dihina, karena di dalam hati kita masih kurangnya keyakinan bahwa kita ini MULIA.
Terserah seluruh dunia mau menghina kita, kalau kita yakin kita mulia, mengapa harus marah dan melakukan anarki?
Islam ini mulia, meskipun seluruh dunia menghinaNya, tidak akan sedikit pun mengurangi kemuliaan Islam.
Ada sesuatu yang kurang di dalam umat Islam sendiri. Itu yang harus kita sadari.
Ahmadiyah sudah lama dinyatakan sesat, tapi mengapa baru sekarang kita mau memusnahkannya. Dan perlu kita tanyakan pada diri sendiri, mengapa masih ada umat kita yang tertarik dengan ajaran Ahmadiyah?
Saya hanya mengharapkan ada solusi yang mencerdaskan umat kita terhadap masalah ini. Jangan sampai kita selalu terjebak untuk melakukan kekerasan setiap kali ada nabi palsu muncul di Indonesia ini.
Assalamua’alaikum dek
OKlah ini balesan K Adhit yg terakhir, K Adhit dak mau berpolemik/berdebat apopun itu karena itu kebiasaan buruk, apolagi dengan adek dewek:)he..he
Adek nanyo samo kakak kenapa masih ada umat kita yang tertarik dengan ajaran Ahmadiyah?..mau tau jawabannya
karena kita kasih ruang buat mereka bergerak (berda’wah)..caranya gimana?..ya itu terlalu banyak toleran, kita tidak bergerak ketika agama kita dinistakan (hmmm.. apa karena kita merasa jadi umat yang mulia????)
Beda dgn jaman Nabi?? betul beda…cuma masalahnya Pemerintah kita tidak tegas, Ahmadiyah terlanjur beranak pinak, SKB nanggung, buat membubarkan ajarannya saja takut, Ahmadiyah di Malaysia, singapura, Pakistan, sudah Haram…kita???…yah itulah tadi terlalu banyak diam (merenungkan kemuliaan islam mungkin)…
Kalo kita (masyarakat+pemerintah) kompak bisa kok dek!, contohnya Si Ahmad musadeq, Mesjidnya kita hancurkan, organisasinya kita bubarkan, agamanya dianggap sesat, pengikut dan pemimpinnya ditangkap kemudian diluruskan dan dikembalikan iman islamnya, bereskan??
dan ingat ini masalah Aqidah dan penistaan agama. Tidak ada toleransi buat mereka yang beraqidah miring, titik. Jauhi sekulerisme (Antek2x JIL, Siti Musdah Mulia dan teman2xnya, GUS DUR, etc). Dukung aktifis islam (PKS, FPI, MMI)…dan sebagainya..dan sebagainya.
Segitu aja dulu dek, maksud kakak cuma mengingatkan. Mohon maaf untuk kata2x yang menyinggung, kebenaran hanya milik Allah SWT dan Rasulullah
BTW..kak adhit sering baca blog tommy..bagus2x kok artikelnya. Kalo tau seharusnya Adek jadi ketua Majalah Paramitha dari pada PMR.
Wassalamu’alaikum WR WB
STOP Aqidah miring, STOP penistaan Agama, Hormati agama lain. Lakum dinukum waa liyadin