
Sistem dibuat oleh manusia untuk mempermudah hidupnya. Tapi kadang ada juga yang mepersulit hidupnya dengan sistem itu. Ada yang mejadi budak sistem, ada juga yang jadi korban sistem. Yang bisa melihat dengan jujur hanyalah seorang yang berada di luar sistem tersebut.
Beberapa hari yang lalu aku mengantarkan adikku mendaftarkan dirinya di Politeknik Negeri Sriwijaya. Dia baru saja lulus ujian penerimaan mahasiswa baru di sana. Hari itu adalah hari pertama pendaftaran dari hanya dua hari yang disediakan. Agar urusan cepat selesai datanglah kami di hari pertama dan sampai di kampus tersebut lebih kurang pukul 10.00 pagi.
Langsung saja adikku mengambil formulir dan mengisinya. lalu seperti petunjuk petugas di sana, adikku lantas pergi menuju loket bank di belakang kampus untuk melakukan pembayaran. Alangkah terkejutnya kami melihat ular yang sangat besar dan panjang. Bukan ular betulan sih, tapi antrian mahasiswa yang berdiri di depan loket yang hanya tersedia dua buah. Aku perkirakan, di depan tiap loket itu telah menganti masing-masing 300an mahasiswa baru.
Oh.. My God… Hari sudah menunjukkan jam 12 siang, tapi adikku masih mengantri jauh di belakang. Karena dia seorang cewek, aku jadi kasihan juga padanya, tapi aku tak mau menggantikannya mengantri. Pertama memang aku tak mau berdesakan di antara manusia-manusia yang penuh keringat tersebut. Kedua aku bilang pada adikku, “Antrilah, dan rasakanlah nikmatnya jadi mahasiswa perguruan tinggi Negeri.”
Aku jadi teringat 9 tahun yang lalu, ketika aku mendaftar di Universitas Sriwijaya. Hal yang sama aku rasakan seperti yang dialami adikku saat ini. Mengantri dan mengantri… untuk pelayanan yang sesungguhnya kita bayar. Ketika semua kampus berusaha memodernisasi sistem perkuliahannya, tampaknya Poltek Unsri masih suka dengan cara-cara yang konvensional. Mungkin pengelolanya tidak pernah nonton TV, jadi tak tahu bedanya antara kuliah dengan kuli-aaaaaah.
Setelah 4 jam mengantri, akhirnya adikku sampai juga di depan loket untuk membayar uang kuliahnya. Manis sekali petugas di sana, apalagi setelah dia beristirahat makan siang, sambil meninggalkan mahasiswa tetap mengantri tanpa dilayani selama setengah jam. Mahasiwa yang merasa sudah mengantri berjam-jam jelas tak mau meninggalkan barisan yang sudah diperjuangkannya sejak pagi tadi kan?
Tak cukup sampai disitu…
Setelah hampir pingsan mengantri di loket bank selama 4 jam lebih. Adikku masih harus pula mengantri di depan poliklinik Kampus untuk pemeriksaan kesehatan. Lebih luar bisa lagi… Untuk 1000 lebih mahasiwa baru yang mendaftar, kampus hanya menyediakan SATU orang dokter saja. Alhasil, adikku lagi-lagi harus mengantri untuk bertemu dengan sang Dokter Idola.
Aku tersenyum miris melihat hal ini. Bagaimana mungkin hal ini masih terus terjadi? Apakah dari tahun ke tahun palaksanaan penerimaan mahasiwa baru kita tidak menimba pengalaman. Dengarlah celoteh mahasiwa baru yang mengantri di depan klinik pak Dokter.
“Pak kami nih sebenarnya sehat, tapi lama mengantri kepala kami jadi pusing, tekanan darah jadi naik nih Pak!”
Toh pak dokter tidak peduli, dia memeriksa tiap mahasiwa baru dengan gayanya yang sok pintar.
Lantas saya bertanya kepada si Moderator yang memanggil giliran mahasiswa yang masuk, “emang apa sih yang diperiksa dokter?”, Katanya “semuanya!”
Aku tanya, “Apakah ada pemeriksaan narkoba dengan pengambilan sampel darah atau urin?”, Dia jawab “Tidak ada! Hanya Diukur tensi darahnya saja dan dilihat kondisi fisik umum saja.”
Aku tanya lagi, “Bagaimana kalau ada calon mahasiwa yang pemakai narkoba?” Jawabnya dengan pintar, ” Dokter pasti langsung tahu pak!” Pikirku, emangnya itu Dokter atau dukun?
Dan memang seperti dugaanku, setelah adikku mendapat gilirannya. Kutanya, “Apa yang diperiksa?” Jawabnya, “Hanya ditensi dan dilihat rongga mulut. Lalu bayar Rp. 5000.” Oh… aku langsung sadar, itulah inti dari pemeriksaan kesehatan ini. Rp 5000 untuk pak Dokter dari tiap mahasiwa baru.
Alangkah menyedihkannya sistem pendidikan kita. Jika hanya ingin uang yang sedikit, mengapa harus cari-cari alasan yang menyusahkan orang. Kalau benar ingin memeriksa kesehatan mengapa tidak periksa secara teliti? Kalau begini caranya, lebih baik suruh tiap mahasiswa cek kesehatannya sendiri dan bawa surat keterangan dokternya, bukan?
Dan Kau ingin memimin Negara ini? Mengurus sebuah kampus saja sudah bikin orang susah?
Mimpi Idealisme dari Sang Senior.
Seminggu setelahnya adikku mulai memasuki masa DikSarLin. Dan lagi-lagi aku yang harus mengantarnya pagi-pagi. Katanya dia gak boleh terlambat, nanti bisa dihukum! Aku heran apakah datang ke kampus terlambat malanggar KUHP atau KUHAP? Ternyata itu adalah peraturan yang dibuat oleh Mahasiwa seniornya. Dua hari pertama Ospek adikku pulang dengan menangis ke rumah, kelelahan. Katanya, “Capek, dikit-dikit dimarah, makan lambat dimarah, baju tak rapi dihukum, datang telat di push-up, capeeeeek!”
Aku pikir luar bisa kampus ini menjalankan program kedisiplinannya. Tapi apakah ini bertahan setelah selesai Diksarlin. Jangan-jangan mahasiwa senior yang marah kalau adik tingkatnya datang terlambat selama Diksar, malah mahasiswa yang suka bolos. Yang menghukum orang karena pakaian tak rapi, malah penganut punk sejati.
Kasihan adikku, selama diksar ia disiksa dengan impian kosong. Dengan bermacam-macam hukuman dia pikir dia masuk ke sebuah kampus yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan nilai-nilai kebudayaan. Tapi lihatlah nanti, dia akan kecewa ketika melihat apa yang dialaminya saat ini tak sedikit pun mencerminkan kehidupan kampusnya yang sesungguhnya nanti. Karena aku pun sudah mengalaminya….
Dan kau ingin menjadi pemimpin Bangsa ini? Coba benahi dulu kampusmu, Tuan!
Entries (RSS)
SETUJU.Senior yang baik adalah ngga banyak caper,ngga sok disiplin. mending biasa aja tapi prestasi bagus n disiplinnya keliatan dalam kehidupan sehari-hari.Mulai disiplin dari diri masing-masing, mudah-mudahan negara ini berangsur-angsur membaik. Kalo ada yang jadi pejabat pendidikan, moga nanti bisa membuat kebijakan yang dapat memperbaiki sistem yang kurang berkenan sekarang ini.
waha..ha…ha…
aq juga daftar di poltek unsri tapi, alhamdulillah gak sampai selama itu soalnya aq datang daftar dijam-jam terakhir saat pendaftaran poltek mau tutup. tapi capek juga sampai ada kejadian yang buat aq nangis bombay waktu daftar. setelah tau aq gak lulus spmb, aq disuruh mama ke palembang untuk ikut poltek unsri.. waktu itu aq di jakarta jadi tanggal 4 agustus kemaren aq langsung brangkat ke palembang. sehari semalamlah perjalan aq ke palembang..
tanggal 5 baru aq sampai di mendayun jadi istirah dulu. pagi-paginya di hari pendaftaran terakhir.. aq naik travel ke palembang.. jam 6 pagi, tapi di tengah jalan malah pecah ban sampai 2 kali.. aq juga harus duduk sempit sempitan sama orang merokok, jalannya juga jelek belobang, debunya banyak yau… rasanya mau pingsan waktu itu
aq sempat putus asa katanya pendaftaran cuma sampai jam 2, dan sekarang udah jam 11 padahal dari mendayun ke pal cuma butuh waktu 4 jam..
tapi akhirnya aq sampai juga di poltek jam setengah 1 dan langsung daftar..
wah.. memang gak terlalu banyak tapi dibuat pusing dengan pendaftaran yang berbelit-belit. aq disuh bolak balik keliling kampus untuk daftar nama, bayar ini itu, tes mata, ngisi abo dan lain lain tanpa ada pentuk yang jelas jadi aq muter deh.. keliling tuh poltek tanpa petunjuk yang jelas….
ampai ada yang kesel karena aq udah datang ke sana 3 kali. padahal aq amat sangat capek belum makan siang
di tambah lagi ada panitia yang iseng ngejai aq. aq tau maksud mereka becanda tapi saat itu aq udah luar biasa lelah abis itu aq langsung lari keluar dan nangis kecapek-an..
wah… klu ingat itu mau ketawa tapi malah nangis dan mau nangis tapi geli..